Semua tdk terlepas dari berdirinya ICMI yg dimotori oleh BJ Habibie bersama 49 tokoh Islam. Berdirinya ICMI mendapat dukungan kabinet yg dimotori oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara yg waktu dan Tarmizi Taher.
Dari kalangan ABRI keberadaan ICMI mendapat dukungan dari Feisal Tanjung, Ahmad tirtosudiro dan R. Hartono. Puncak dukungan terhadap ICMI saat panglima ABRI dijabat Feisal Tanjung dan R. Hartono sebagai KASAD.
Ada friksi dlm merebut pengaruh pak Harto dalam tubuh ABRI.
Apa yg dilakukan oleh Feisal Tanjung selaku panglima ABRI terhadap ICMI, mendapat reaksi keras dari kubu LB Moerdani.
Dari sinilah timbul dikotomi antara ABRI yg dipimpin oleh Feisal Tanjung dgn Kubu LB Moerdani. Dari friksi ini muncul istilah ABRI Hijau dan ABRI Merah.
ABRI merah dipegang LB Moerdani, Tri Sutrisno, Edy Sudrajat. Wismoyo Arismunandar dan Hendro priyono.
Dikotomi ABRI Merah dan ABRI Hijau berlanjut ke tahun 1998 saat Wiranto jadi panglima ABRI.
Dalam persaingan antara ABRI Merah dengan ABRI Hijau, muncullah PRABOWO SUBIANTO.
Kemunculan Prabowo ini adlah ancaman utk merebut pengaruh dalam tubuh ABRI. Apalagi secara jenjang pangkat, posisi PRABOWO semakin meroket,
Kopassus berhasil dikembangkan menjadi 3 grup, Cijantung, Karta sura dan Serang, mau gak mau pangkat Prabowo naik menjadi bintang 2,
Prabowo sebuah ancaman bagi keberadaan ABRI Merah, apalagi pada tahun 1998 PRABOWO diangkat menjadi PANGKOSTRAD.
Jadi pada hakekatnya telah terjadi 2 faksi di tubuh ABRI dan PRABOWO dikurbankan krn pengaruh persaingan dominasi ditubuh TNI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar